★ 5,8Multiplex
Multipleks adalah bioskop dengan banyak studio di bawah satu atap, tempat tiap pintu memutar film yang berbeda. Multiplex meminjam bentuk itu dan memberi tiap studio satu penghuni tetap: seorang sutradara. Dua puluh enam studio masing-masing memutar empat film atau lebih dari satu sutradara, empat belas di antaranya sutradara Indonesia dan dua belas sutradara dunia. Studio kedua puluh tujuh adalah studio tamu, tempat enam sutradara besar masing-masing membawa tiga film. Nama sutradara tertulis di tiap poster. Pilih pintu, masuk, dan kenali tangan di balik filmnya.
Dua puluh tujuh studio: pilih pintunya
Hanung BramantyoStudio 1: Hanung Bramantyo
Lihat semua (13)
★ 5,8
★ 6,2
★ 5,9
★ 7,1
★ 7,7
★ 7,4Anggy UmbaraStudio 2: Anggy Umbara
Lihat semua (9)
★ 6,2
★ 5,9
★ 6,6
★ 5,4
★ 6,8
★ 5,7Angga Dwimas SasongkoStudio 3: Angga Dwimas Sasongko
Lihat semua (8)
★ 6,8
★ 6,3
★ 7,0
★ 6,2
★ 7,2
★ 6,2Riri RizaStudio 4: Riri Riza
Lihat semua (8)
★ 7,9
★ 6,3
★ 7,6
★ 6,6
★ 6,9
★ 6,4Fajar BustomiStudio 5: Fajar Bustomi
Lihat semua (7)
★ 5,6
★ 7,5
★ 6,9
★ 6,2
★ 6,3
★ 6,4Ernest PrakasaStudio 6: Ernest Prakasa
Lihat semua (6)
★ 7,2
★ 7,5
★ 7,7
★ 7,6
★ 7,9
★ 6,6Guntur SoeharjantoStudio 7: Guntur Soeharjanto
Lihat semua (6)
★ 6,8
★ 7,5
★ 6,5
★ 7,3
★ 6,0
★ 6,8Raditya DikaStudio 8: Raditya Dika
Lihat semua (6)
★ 7,1
★ 7,1
★ 7,4
★ 7,2
★ 6,7
★ 7,3Monty TiwaStudio 9: Monty Tiwa
Lihat semua (5)
★ 5,5
★ 7,5
★ 5,6
★ 2,7
★ 6,3Ody C. HarahapStudio 10: Ody C. Harahap
Lihat semua (5)
★ 6,3
★ 6,6
★ 7,5
★ 7,1
★ 6,2Fajar NugrosStudio 11: Fajar Nugros
Lihat semua (4)Timo TjahjantoStudio 12: Timo Tjahjanto
Lihat semua (4)UpiStudio 13: Upi
Lihat semua (4)Yandy LaurensStudio 14: Yandy Laurens
Lihat semua (4)
★ 8,0
★ 8,8
★ 8,4
★ 7,5Steven SpielbergStudio 15: Steven Spielberg
Lihat semua (9)
★ 7,3
★ 7,9
★ 6,8
★ 8,0
★ 8,6
★ 7,4David YatesStudio 16: David Yates
Lihat semua (6)
★ 7,7
★ 7,7
★ 7,7
★ 8,1
★ 7,3
★ 6,8Jon FavreauStudio 17: Jon Favreau
Lihat semua (6)
★ 6,7
★ 7,7
★ 6,9
★ 7,1
★ 6,9
★ 7,1Peter JacksonStudio 18: Peter Jackson
Lihat semua (6)
★ 8,4
★ 8,4
★ 8,5
★ 7,4
★ 7,6
★ 7,3Shawn LevyStudio 19: Shawn Levy
Lihat semua (5)
★ 6,6
★ 6,2
★ 6,2
★ 7,4
★ 7,0Tim BurtonStudio 20: Tim Burton
Lihat semua (5)
★ 7,0
★ 7,6
★ 6,6
★ 6,8
★ 6,6Brad BirdStudio 21: Brad Bird
Lihat semua (4)George LucasStudio 22: George Lucas
Lihat semua (4)
★ 8,2
★ 6,6
★ 6,6
★ 7,5Gore VerbinskiStudio 23: Gore Verbinski
Lihat semua (4)
★ 7,8
★ 7,4
★ 7,3
★ 6,9Hirokazu Kore-edaStudio 24: Hirokazu Kore-eda
Lihat semua (4)John LasseterStudio 25: John Lasseter
Lihat semua (4)Zack SnyderStudio 26: Zack Snyder
Lihat semua (4)Sutradara tamuStudio 27: enam sutradara tamu
Lihat semua (18)
★ 6,8
★ 8,5
★ 7,9
★ 7,7
★ 7,9
★ 7,7Panduan Multiplex
Multiplex: satu studio, satu sutradara
Banyak pintu di bawah satu atap
Multipleks adalah bioskop dengan banyak studio di bawah satu atap. Penonton membeli tiket, berjalan menyusuri lorong berkarpet, dan memilih pintu: studio satu memutar film laga, studio dua memutar komedi, studio tiga memutar kartun. Di Multiplex, lorong itu disusun dengan cara lain. Tiap pintu diberi nama seorang sutradara, dan di balik pintu itu hanya karya dialah yang diputar.
Seratus enam puluh delapan film berdiri di dua puluh tujuh studio. Dua puluh enam studio masing-masing dihuni satu sutradara dengan empat film atau lebih. Studio kedua puluh tujuh adalah studio tamu, tempat enam sutradara besar masing-masing membawa tiga film. Setiap film berdiri di tepat satu studio, dan nama sutradaranya tertulis di poster. Gagasan ini diuraikan di Satu studio, satu sutradara.
Mengapa sutradara? Karena sutradara adalah orang yang memutuskan bagaimana sebuah cerita terlihat dan terdengar. Dua film dengan naskah serupa bisa terasa sangat berbeda di tangan dua sutradara. Penonton yang menyukai satu film dari seorang sutradara sering menyukai filmnya yang lain, sebab selera humor, cara memandang tokoh, dan irama ceritanya ikut terbawa.
Tiap film memiliki halaman sendiri dengan poster, sinopsis berbahasa Indonesia, daftar pemeran, durasi, dan rating. Tombol Tonton sekarang membuka judul itu di JustWatch, tempat layanan resmi untuk negara Anda ditampilkan. Pengunjung baru sebaiknya membaca Mulai di Multiplex lebih dulu.
Papan dua puluh tujuh studio
Bagian teratas beranda adalah papan studio: dua puluh tujuh kotak bernomor, masing-masing dengan nama sutradara dan jumlah filmnya. Warna garis tepi kotak menunjukkan kelompoknya. Ungu menandai empat belas studio sutradara Indonesia, jingga menandai dua belas studio sutradara dunia, dan abu kebiruan menandai studio tamu.
Daftar Studio sutradara Indonesia mengumpulkan 89 film dari empat belas studio pertama. Daftar Studio sutradara dunia mengumpulkan 79 film dari dua belas studio berikutnya dan studio tamu. Delapan puluh sembilan ditambah tujuh puluh sembilan menghasilkan seratus enam puluh delapan. Semua daftar ada di halaman Studio.
Di bawah papan, tiap studio tampil sebagai satu baris berisi enam poster menurut urutan rilis, dimulai dari film paling awal sang sutradara di sini. Dengan begitu satu baris adalah awal sebuah riwayat kerja: Anda melihat dari mana seorang sutradara berangkat. Tautan Lihat semua membuka isi studio selengkapnya, tersusun menurut kepopuleran.
Cara menentukan studio sebuah film
Aturannya satu: sebuah film berdiri di studio sutradara yang namanya tercatat pertama di kolom sutradara TMDB pada 13 Oktober 2026. Sebagian besar film hanya punya satu sutradara, sehingga aturan itu jarang menimbulkan pertanyaan. Film yang digarap dua sutradara berdiri di studio nama yang tercatat lebih dulu.
Seorang sutradara mendapat studio sendiri bila empat filmnya atau lebih tersedia di kumpulan film Multiplex. Dua puluh enam sutradara memenuhi syarat itu. Enam sutradara lain yang masing-masing memiliki tepat tiga film, dan yang filmnya paling banyak dinilai penonton, diundang ke studio tamu.
Jumlah film di tiap studio adalah jumlah yang tersedia di sini, dan bisa lebih sedikit daripada seluruh karya sang sutradara. Steven Spielberg misalnya telah membuat lebih dari tiga puluh film, dan sembilan di antaranya diputar di studionya. Uraian lengkapnya ada di Cara menentukan sutradara.
Studio 1: Hanung Bramantyo
Studio 1 adalah studio terbesar di Multiplex: tiga belas film karya Hanung Bramantyo, dari 2005 sampai 2026. Sepuluh di antaranya drama. Rata-rata durasinya 126 menit, terpanjang kedua di antara studio Indonesia sesudah studio Timo Tjahjanto.
Hanung dikenal sebagai sutradara yang berani menggarap cerita besar. Ia memfilmkan novel laris, dari Ayat-Ayat Cinta (2008) sampai dua film Perahu Kertas (2012) dan Bumi Manusia (2019), yang berdurasi 181 menit. Ia juga memfilmkan tokoh bangsa: Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), dan Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018).
Film awalnya lebih ringan: Catatan Akhir Sekolah (2005) dan Get Married (2007). Belakangan ia mencoba jagat pahlawan wayang lewat Satria Dewa: Gatotkaca (2022) dan menghidupkan kembali Catatan si Boy (2023). Rating tertinggi di studio ini, 7,7, dimiliki Perahu Kertas 2 dan Rudy Habibie.
Studio 2: Anggy Umbara
Studio 2 memutar sembilan film Anggy Umbara, dari 2014 sampai 2025. Empat di antaranya komedi dan tiga film aksi jenaka. Ini studio untuk penonton yang ingin tertawa keras.
Namanya melejit lewat Comic 8 (2014), film perampokan bank yang diperankan delapan komika, dan dua lanjutannya, Comic 8: Casino Kings - Part 1 (2015) dan Comic 8: Casino Kings - Part 2 (2016). Lalu datang Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016), yang memecahkan rekor penonton film Indonesia pada masanya, dan bagian keduanya pada 2017.
Film terbaiknya menurut rating adalah Sabar Ini Ujian (2020) dengan 8,0, komedi tentang seorang pria yang terjebak mengulang hari pernikahan mantan kekasihnya. Devil on Top (2021) dan Setetes Embun Cinta Niyala (2025) adalah karyanya yang lebih baru.
Studio 3: Angga Dwimas Sasongko
Studio 3 memutar delapan film Angga Dwimas Sasongko, dari 2015 sampai 2023. Empat drama dan tiga film aksi: Angga bergerak luwes di antara cerita hangat dan cerita tegang.
Filosofi Kopi (2015) memperkenalkan dua sahabat pemilik kedai kopi, dan kisah mereka berlanjut dalam dua film lagi, yang terakhir berubah menjadi film laga. Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (2020) mengangkat rahasia sebuah keluarga, dan pendahulu ceritanya, Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti (2023), memiliki rating 8,0, tertinggi di studio ini.
Di sisi laga ada Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018) dan 13 Bom di Jakarta (2023), yang berdurasi 143 menit. Surat dari Praha (2016) adalah kisah cinta yang tenang di antara keduanya.
Studio 4: Riri Riza
Studio 4 memutar delapan film Riri Riza, dan rentang tahunnya paling panjang di antara studio Indonesia: dari 2000 sampai 2023. Enam di antaranya drama dan dua film petualangan anak.
Riri Riza ikut membuka babak baru perfilman Indonesia lewat Petualangan Sherina (2000), musikal anak dengan rating 7,9. Dua puluh tiga tahun kemudian ia kembali dengan Petualangan Sherina 2 (2023). Di antara keduanya terbentang karya yang sangat beragam: Gie (2005) tentang seorang aktivis, Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009) dari novel Andrea Hirata, serta Sokola Rimba (2013) tentang guru di tengah hutan.
Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) mempertemukan kembali Cinta dan Rangga. Bebas (2019), kisah enam sahabat sekolah yang bertemu lagi sesudah dewasa, memiliki rating 8,0, tertinggi di studio ini. Rata-rata studio ini 7,08.
Studio 5: Fajar Bustomi
Studio 5 memutar tujuh film Fajar Bustomi, dari 2014 sampai 2024. Lima di antaranya drama remaja. Bila ada satu nama yang melekat pada studio ini, nama itu Dilan.
Dilan 1990 (2018), dengan rating 7,5, membuat seluruh negeri mengutip rayuan seorang anak SMA Bandung. Dilan 1991 (2019) dan Milea: Suara dari Dilan (2020) melanjutkan dan menutup kisah itu, lalu Dilan 1983: Wo Ai Ni (2024) mundur ke masa kecil sang tokoh. Empat film dari satu dunia cerita, satu sutradara.
Di luar Dilan, Fajar Bustomi menggarap Mariposa (2020), My Sassy Girl (2022), dan Kukejar Cinta ke Negeri Cina (2014). Semuanya kisah cinta anak muda, wilayah yang ia kuasai.
Studio 6: Ernest Prakasa
Studio 6 memutar enam film Ernest Prakasa, dari 2015 sampai 2025. Rata-rata ratingnya 7,42, tertinggi kedua di antara studio Indonesia. Lima di antaranya komedi, dan hampir semuanya bercerita tentang keluarga.
Ernest berangkat dari panggung lawak tunggal, lalu menulis, menyutradarai, dan membintangi film-filmnya sendiri. Ngenest (2015) mengangkat pengalamannya tumbuh sebagai anak keturunan Tionghoa. Cek Toko Sebelah (2016), dengan rating 7,5, bercerita tentang dua bersaudara dan toko kelontong ayah mereka. Susah Sinyal (2017) memiliki rating 7,7.
Cek Toko Sebelah 2 (2022) memiliki rating 7,9, tertinggi di studio ini. Sebuah komedi tentang karier, cinta, dan timbangan badan dari 2019 memiliki 7,6. Yang terbaru adalah Lupa Daratan (2025). Ciri khas studio ini: lelucon yang lahir dari kehidupan sehari-hari, dan akhir yang menghangatkan hati.
Studio 7: Guntur Soeharjanto
Studio 7 memutar enam film Guntur Soeharjanto, dari 2013 sampai 2025, dan keenamnya drama. Studio ini cocok bagi penonton yang menyukai kisah cinta dengan latar negeri jauh.
Tiga filmnya membawa penonton berkeliling dunia. 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) menyusuri jejak sejarah di Wina dan Paris. Assalamualaikum Beijing (2014), dengan rating 7,5 yang tertinggi di studio ini, berlatar ibu kota Tiongkok. Belok Kanan Barcelona (2018), dengan rating 7,3, mengikuti empat sahabat menuju sebuah pernikahan di Spanyol.
Tiga film lain tinggal di tanah air: Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), Rumput Tetangga (2019), dan Norma: Antara Mertua dan Menantu (2025), drama rumah tangga dari kisah yang ramai dibicarakan.
Studio 8: Raditya Dika
Studio 8 memutar enam film Raditya Dika, semuanya dari 2014 sampai 2019. Rata-rata ratingnya 7,13. Seperti Ernest, Raditya Dika berangkat dari menulis dan melawak, lalu menyutradarai dan membintangi filmnya sendiri.
Filmnya hampir selalu tentang pemuda canggung yang mencari cinta. Marmut Merah Jambu (2014) mengenang cinta pertama di SMA. Single (2015) dan Single: Part 2 (2019) mengikuti seorang jomlo menahun. Koala Kumal (2016), dengan rating 7,4 yang tertinggi di studio ini, bercerita tentang patah hati.
Hangout (2016) berbeda dari yang lain: komedi misteri di sebuah pulau, dengan para pesohor memerankan diri sendiri. The Guys (2017) berlatar kantor dan rumah kontrakan. Studio ini ringan, jenaka, dan jujur tentang rasa malu anak muda.
Studio 9: Monty Tiwa
Studio 9 memutar lima film Monty Tiwa, dari 2014 sampai 2019: tiga komedi dan dua drama. Karya terbaiknya di sini adalah Sabtu Bersama Bapak (2016), dengan rating 7,5, tentang seorang ayah yang meninggalkan rekaman pesan bagi anak-anaknya.
Mahasiswi Baru (2019) bercerita tentang seorang nenek yang masuk kuliah, dan Mau Jadi Apa? (2017) tentang sekelompok mahasiswa yang membuat majalah kampus. Dua komedi lain dari 2014 dan 2018 melengkapi studio ini, yang rata-rata durasinya 99 menit, terpendek di antara studio Indonesia.
Studio 10: Ody C. Harahap
Studio 10 memutar lima film Ody C. Harahap, dari 2009 sampai 2019. Sweet 20 (2017), dengan rating 7,5, adalah puncaknya: seorang nenek mendadak kembali berusia dua puluh tahun. Orang Kaya Baru (2019), dengan rating 7,1, mengikuti keluarga sederhana yang tiba-tiba mewarisi harta.
Kapan Kawin? (2015) adalah komedi romantis tentang pacar sewaan, dan Punk in Love (2009) mengikuti empat anak punk dalam perjalanan dari Malang ke Jakarta. Film kelimanya adalah komedi laga dari 2019 tentang polisi pesohor televisi. Keluarga dan kejutan nasib adalah benang merah studio ini.
Studio 11: Fajar Nugros
Studio 11 memutar empat film Fajar Nugros, dari 2013 sampai 2023. Dua film awalnya dari 2013 adalah komedi romantis: Cinta Brontosaurus, dari buku Raditya Dika, dan Refrain, kisah dua sahabat sejak kecil. MeloDylan (2019) adalah drama remaja.
Film terbarunya di sini, Sleep Call (2023), berbelok tajam menjadi film tegang tentang seorang pegawai pinjaman daring yang terjerat hubungan lewat telepon. Rating 6,9 menjadikannya yang tertinggi di studio ini, dan perubahan arah itu membuat studio ini menarik diikuti.
Studio 12: Timo Tjahjanto
Studio 12 adalah studio paling keras di lorong Indonesia: empat film Timo Tjahjanto, dan keempatnya film aksi. Rata-rata durasinya 131 menit, terpanjang di antara studio Indonesia.
Headshot (2016), yang ia garap bersama Kimo Stamboel, mengikuti seorang pria yang kehilangan ingatan. The Night Comes For Us (2018) adalah pertarungan panjang seorang mantan algojo sindikat. The Big 4 (2022) mencampur laga dengan komedi. The Shadow Strays (2024), dengan rating 7,3 yang tertinggi di studio ini, mengikuti seorang pembunuh bayaran muda.
Studio ini untuk penonton dewasa yang menyukai koreografi laga yang rumit. Keempat filmnya menempatkan nama Timo di peta film aksi dunia.
Studio 13: Upi
Studio 13 memutar empat film Upi, satu-satunya sutradara perempuan dengan studio sendiri di Multiplex. Rentang tahunnya 2006 sampai 2022, dan ragamnya lebar: dua drama, satu komedi, dan satu film aksi.
Realita, Cinta dan Rock'n Roll (2006) mengikuti dua sahabat pemusik, dan Serigala Terakhir (2009) adalah drama geng dengan rating 6,9. My Stupid Boss (2016), dengan rating 7,0 yang tertinggi di studio ini, adalah komedi kantor yang sangat laris. Tiga belas tahun sesudah film gengnya, Upi menyutradarai Sri Asih (2022), film pahlawan super berdurasi 134 menit.
Studio 14: Yandy Laurens
Studio 14 memutar empat film Yandy Laurens, dan rata-rata ratingnya 8,18, tertinggi di antara semua studio di Multiplex. Tiga dari empat filmnya memiliki rating 8,0 atau lebih.
Keluarga Cemara (2019), film panjang pertamanya, memiliki rating 8,0. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), film hitam putih tentang seorang penulis naskah yang jatuh cinta, memiliki rating 8,8, tertinggi di seluruh Multiplex. Pada 2025 ia merilis dua film: 1 Kakak 7 Ponakan dengan rating 8,4 dan Sore: Istri Dari Masa Depan dengan 7,5.
Empat film dalam enam tahun, semuanya tentang keluarga dan kasih sayang, dan semuanya disambut hangat. Studio ini kecil, tetapi bila Anda hanya sempat membuka satu pintu di lorong Indonesia, bukalah yang ini.
Empat belas studio Indonesia sebagai satu lorong
Empat belas studio pertama membentuk lorong Studio sutradara Indonesia: 89 film dari 2000 sampai 2026, lebih dari separuh isi Multiplex. Empat puluh lima di antaranya drama, dua puluh komedi, dan tiga belas film aksi. Rata-rata durasinya 114 menit.
Menurut jumlah film, urutannya Hanung Bramantyo 13, Anggy Umbara 9, Angga Dwimas Sasongko dan Riri Riza masing-masing 8, Fajar Bustomi 7, lalu Ernest Prakasa, Guntur Soeharjanto, dan Raditya Dika masing-masing 6. Monty Tiwa dan Ody C. Harahap masing-masing 5, dan empat studio terakhir masing-masing 4.
Menurut rata-rata rating, urutannya lain: Yandy Laurens 8,18, Ernest Prakasa 7,42, Raditya Dika 7,13, dan Riri Riza 7,08 berada di depan. Enam film di lorong ini memiliki rating 8,0 atau lebih, dan tiga di antaranya karya Yandy Laurens. Panduannya ada di Panduan studio Indonesia.
Lorong ini adalah potret perfilman Indonesia abad ini. Di dalamnya ada generasi yang membangkitkan bioskop pada awal 2000-an, generasi komika yang membawa penonton baru pada 2010-an, dan generasi termuda yang menemukan bahasa film keluarga yang segar.
Tiga gelombang di lorong Indonesia
Bila empat belas studio Indonesia dijajarkan menurut tahun film pertama sutradaranya di sini, terlihat tiga gelombang. Gelombang pertama datang pada dasawarsa 2000-an: Riri Riza membuka pada 2000, Hanung Bramantyo menyusul pada 2005, Upi pada 2006, dan Ody C. Harahap pada 2009. Mereka adalah generasi yang mengisi kembali bioskop sesudah masa sepi yang panjang.
Gelombang kedua datang serentak di sekitar 2013 sampai 2016, dan inilah yang terbesar: Guntur Soeharjanto dan Fajar Nugros pada 2013, lalu Anggy Umbara, Fajar Bustomi, Raditya Dika, dan Monty Tiwa pada 2014, Ernest Prakasa dan Angga Dwimas Sasongko pada 2015, serta Timo Tjahjanto pada 2016. Pada tahun-tahun itu jumlah layar bioskop bertambah cepat, dan komedi serta drama remaja menemukan penonton baru dalam jumlah besar.
Gelombang ketiga diwakili satu nama, Yandy Laurens, yang film panjang pertamanya dirilis pada 2019. Dalam enam tahun ia sudah mengumpulkan rata-rata rating tertinggi di seluruh Multiplex. Tiga gelombang itu memperlihatkan perfilman yang terus memperbarui diri, dan lorong ini menyediakan tempat untuk membandingkan ketiganya.
Tahun pertama yang disebut di sini adalah tahun film paling awal yang tersedia di Multiplex. Beberapa sutradara sudah berkarya lebih dulu lewat film pendek, serial, atau film panjang yang berada di luar kumpulan ini.
Studio 15: Steven Spielberg
Studio 15 adalah studio terbesar di lorong dunia: sembilan film Steven Spielberg, dari 1984 sampai 2018. Tujuh di antaranya film petualangan, dan rata-rata durasinya 135 menit.
Tiga film Indiana Jones berdiri di sini: Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), Indiana Jones and the Last Crusade (1989) dengan rating 7,9, dan Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008). Di antara mereka ada Hook (1991), kisah Peter Pan yang sudah dewasa.
Tahun 1993 adalah tahun paling menakjubkan dalam studio ini. Pada tahun itu Spielberg merilis Jurassic Park, dengan rating 8,0, dan Schindler's List, dengan rating 8,6 yang tertinggi di studio ini. Satu film menghidupkan dinosaurus, satu lagi mengenang tragedi kemanusiaan, dan keduanya menjadi tonggak sejarah film.
Karya abad ini melengkapi studio: The Terminal (2004) tentang pria yang tinggal di bandara, War of the Worlds (2005), dan Ready Player One (2018), petualangan di dunia permainan dengan rating 7,6.
Studio 16: David Yates
Studio 16 memutar enam film David Yates, semuanya dari dunia sihir yang sama. Rata-rata ratingnya 7,55 dan rata-rata durasinya 139 menit.
Yates menyutradarai empat film Harry Potter terakhir: Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009), Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 (2010), dan Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 (2011), yang memiliki rating 8,1. Di tangannya kisah penyihir muda itu menjadi makin gelap dan dewasa.
Ia lalu meneruskan dunia yang sama lewat Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016) dan Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018). Dua film Harry Potter pertama, karya sutradara lain, diputar di studio tamu.
Studio 17: Jon Favreau
Studio 17 memutar enam film Jon Favreau, dari 2003 sampai 2019, dan ragamnya mengejutkan. Elf (2003) adalah komedi Natal. Iron Man (2008), dengan rating 7,7 yang tertinggi di studio ini, membuka jagat sinema Marvel, dan Iron Man 2 (2010) melanjutkannya.
Chef (2014) adalah film kecil tentang juru masak dan truk makanannya, yang ia bintangi sendiri. Sesudah itu ia memimpin dua buat ulang besar untuk Disney: The Jungle Book (2016) dan The Lion King (2019). Dari komedi kecil sampai tontonan raksasa, studio ini memperlihatkan sutradara yang nyaman di semua ukuran.
Studio 18: Peter Jackson
Studio 18 memutar enam film Peter Jackson, seluruhnya dari dunia Middle-earth. Rata-rata ratingnya 7,95, tertinggi di antara studio dunia, dan rata-rata durasinya 172 menit, terpanjang di seluruh Multiplex.
Trilogi pertamanya adalah salah satu pencapaian terbesar film petualangan: The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001) dan The Lord of the Rings: The Two Towers (2002) dengan rating 8,4, serta The Lord of the Rings: The Return of the King (2003) dengan 8,5 dan durasi 201 menit.
Sepuluh tahun kemudian ia kembali dengan trilogi kedua: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012), The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013), dan The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014). Menonton keenam film ini berurutan memakan waktu lebih dari tujuh belas jam, maraton terpanjang yang ditawarkan satu studio.
Studio 19: Shawn Levy
Studio 19 memutar lima film Shawn Levy, dari 2006 sampai 2022, semuanya tontonan keluarga yang ringan. Tiga di antaranya adalah trilogi museum yang hidup pada malam hari: Night at the Museum (2006), Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009), dan Night at the Museum: Secret of the Tomb (2014).
Dua film terbarunya dibintangi aktor yang sama. Free Guy (2021), dengan rating 7,4 yang tertinggi di studio ini, bercerita tentang tokoh latar dalam sebuah permainan video. The Adam Project (2022) mempertemukan seorang pilot dengan dirinya sendiri semasa kecil.
Studio 20: Tim Burton
Studio 20 memutar lima film Tim Burton, dari 2005 sampai 2019. Dunia Burton mudah dikenali: ganjil, muram, dan lembut hati sekaligus. Tahun 2005 saja menyumbang dua film: Charlie and the Chocolate Factory dan Corpse Bride, animasi boneka 77 menit dengan rating 7,6, tertinggi di studio ini.
Alice in Wonderland (2010), Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016), dan Dumbo (2019) melanjutkan kegemarannya pada tokoh yang berbeda dari orang kebanyakan. Kelima film di studio ini cocok ditonton bersama keluarga yang menyukai dongeng dengan sedikit bayangan.
Studio 21: Brad Bird
Studio 21 memutar empat film Brad Bird, dengan rata-rata rating 7,55. Tiga di antaranya animasi Pixar: The Incredibles (2004), Ratatouille (2007) dengan rating 7,8 yang tertinggi di studio ini, dan Incredibles 2 (2018).
Film keempatnya membuktikan bahwa sutradara animasi bisa memimpin laga dengan pemeran manusia: Mission: Impossible - Ghost Protocol (2011), dengan adegan memanjat gedung tertinggi di dunia. Ketepatan gerak yang ia pelajari di animasi terasa di setiap adegan.
Studio 22: George Lucas
Studio 22 memutar empat film George Lucas, semuanya Star Wars. Star Wars (1977), film tertua di Multiplex, memiliki rating 8,2. Dua puluh dua tahun kemudian Lucas kembali ke kursi sutradara untuk trilogi pendahulunya.
Star Wars: Episode I - The Phantom Menace (1999), Star Wars: Episode II - Attack of the Clones (2002), dan Star Wars: Episode III - Revenge of the Sith (2005) menceritakan asal-usul tokoh jahat paling terkenal dalam sejarah film. Episode ketiga memiliki rating 7,5. Studio ini adalah tempat melihat galaksi itu dari tangan penciptanya sendiri.
Studio 23: Gore Verbinski
Studio 23 memutar empat film Gore Verbinski, dengan rata-rata durasi 142 menit. Tiga di antaranya adalah trilogi bajak laut: Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (2003) dengan rating 7,8, Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest (2006), dan Pirates of the Caribbean: At World's End (2007).
Film keempatnya, Rango (2011), adalah animasi tentang bunglon yang menjadi sheriff di kota gurun. Kegemaran Verbinski pada tokoh nyentrik dan humor ganjil menyatukan keempat film itu.
Studio 24: Hirokazu Kore-eda
Studio 24 adalah studio paling tenang di Multiplex: empat film Hirokazu Kore-eda, sutradara Jepang yang setia pada kisah keluarga. Rata-rata ratingnya 7,53.
Still Walking (2008), dengan rating 7,8, mengikuti satu hari berkumpulnya sebuah keluarga. After the Storm (2016) bercerita tentang ayah yang berusaha dekat kembali dengan anaknya. Broker (2022) ia buat di Korea dengan pemeran Korea. Film keempat, sebuah misteri sekolah dari 2023 dengan rating 7,9, diceritakan dari tiga sudut pandang.
Studio ini adalah satu-satunya di lorong dunia yang berisi film berbahasa Jepang dan Korea. Bagi penonton yang menyukai Keluarga Cemara, pintu ini layak dicoba.
Studio 25: John Lasseter
Studio 25 memutar empat film John Lasseter, semuanya animasi Pixar, dengan rata-rata durasi 99 menit, terpendek di lorong dunia. Toy Story (1995), film panjang pertama yang seluruhnya dibuat dengan komputer, memiliki rating 8,0, dan Toy Story 2 (1999) memiliki 7,6.
Cars (2006) dan Cars 2 (2011) memindahkan cerita ke dunia mobil yang bisa bicara. Studio ini pilihan aman untuk menonton bersama anak kecil.
Studio 26: Zack Snyder
Studio 26 memutar empat film Zack Snyder, dari 2010 sampai 2017. Tiga di antaranya adalah film pahlawan super dari komik DC: Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017).
Film keempat adalah kejutan: Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole (2010), animasi tentang burung hantu kesatria, dengan rating 6,8 yang tertinggi di studio ini. Gaya gambar Snyder yang megah dan gerak lambatnya yang khas mudah dikenali di keempatnya.
Studio 27: enam sutradara tamu
Studio 27 adalah studio tamu. Enam sutradara besar masing-masing membawa tiga film, seluruhnya delapan belas film dari 1992 sampai 2023. Rata-rata ratingnya 7,65 dan rata-rata durasinya 142 menit. Lima filmnya memiliki rating 8,0 atau lebih, jumlah terbanyak di antara semua studio.
Christopher Nolan membawa The Dark Knight Rises (2012), Interstellar (2014) dengan rating 8,5, dan Oppenheimer (2023) dengan 8,0. Ketiganya berdurasi lebih dari dua jam empat puluh menit, dan ketiganya menuntut perhatian penuh.
James Cameron membawa tiga film terlaris sepanjang masa: Titanic (1997), Avatar (2009), dan Avatar: The Way of Water (2022). Robert Zemeckis membawa Forrest Gump (1994) dengan rating 8,5, Cast Away (2000), dan The Polar Express (2004), dua yang pertama dengan pemeran utama yang sama.
Pete Docter membawa tiga animasi Pixar tentang perasaan dan makna hidup: Up (2009), Inside Out (2015), dan Soul (2020), semuanya dengan rating 7,9 atau lebih. Sam Raimi membawa Spider-Man 2 (2004), Spider-Man 3 (2007), dan Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022).
Chris Columbus membawa Home Alone 2: Lost in New York (1992) serta dua film Harry Potter pertama, Harry Potter and the Philosopher's Stone (2001) dan Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002). Dengan begitu enam dari delapan film Harry Potter diputar di Multiplex: dua di studio tamu dan empat di studio David Yates. Panduannya ada di Panduan studio tamu.
Lorong sutradara dunia
Dua belas studio sutradara mancanegara dan studio tamu membentuk lorong Studio sutradara dunia: 79 film dari 1977 sampai 2023. Rata-rata ratingnya 7,34 dan rata-rata durasinya 131 menit. Tiga puluh lima di antaranya film petualangan, dan lima belas animasi.
Lorong ini didominasi waralaba besar. Enam film Middle-earth, enam film dunia sihir karya Yates, empat Star Wars, tiga Indiana Jones, tiga bajak laut, tiga museum, dan dua pasang film Pixar. Sutradara yang memimpin sebuah waralaba dari awal sampai akhir memberi kesatuan rasa yang jarang didapat bila sutradaranya berganti-ganti.
Tiga belas film di lorong ini memiliki rating 8,0 atau lebih. Rating tertinggi dimiliki Schindler's List dengan 8,6, disusul The Lord of the Rings: The Return of the King, Interstellar, dan Forrest Gump dengan 8,5. Panduannya ada di Panduan studio dunia.
Sutradara dan rating
Bila semua studio dijajarkan menurut rata-rata rating, lima teratas adalah Yandy Laurens dengan 8,18, Peter Jackson dengan 7,95, studio tamu dengan 7,65, lalu David Yates dan Brad Bird dengan 7,55. Hirokazu Kore-eda menyusul dengan 7,53 dan Ernest Prakasa dengan 7,42.
Angka rata-rata perlu dibaca bersama jumlah film. Studio dengan empat film lebih mudah memiliki rata-rata tinggi daripada studio dengan tiga belas film, sebab karier yang panjang selalu memuat percobaan yang kurang berhasil. Hanung Bramantyo, dengan tiga belas film selama dua puluh satu tahun, memiliki rata-rata 6,78, dan enam filmnya memiliki rating 7,1 atau lebih.
Film dengan rating tertinggi di seluruh Multiplex adalah karya sutradara Indonesia: Jatuh Cinta Seperti di Film-Film dengan 8,8. Sembilan belas dari 168 film memiliki rating 8,0 atau lebih, dan lima puluh enam memiliki 7,5 atau lebih. Rata-rata seluruh situs 7,02, dengan rata-rata durasi 122 menit. Pembahasannya ada di Sutradara dan rating.
Film dengan rating 8,0 atau lebih
Sembilan belas film di Multiplex memiliki rating 8,0 atau lebih, enam di lorong Indonesia dan tiga belas di lorong dunia. Di lorong Indonesia, tiga di antaranya karya Yandy Laurens: Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, 1 Kakak 7 Ponakan, dan Keluarga Cemara. Tiga lainnya tersebar di tiga studio: Bebas karya Riri Riza, Sabar Ini Ujian karya Anggy Umbara, dan Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti karya Angga Dwimas Sasongko.
Di lorong dunia, studio tamu menyumbang lima: Forrest Gump, Interstellar, Soul, Up, dan Oppenheimer. Studio Peter Jackson menyumbang tiga, yaitu seluruh trilogi The Lord of the Rings. Studio Steven Spielberg menyumbang dua, Schindler's List dan Jurassic Park. Tiga sisanya adalah Star Wars di studio George Lucas, Toy Story di studio John Lasseter, dan film penutup Harry Potter di studio David Yates.
Sembilan belas film itu berasal dari sepuluh studio. Artinya lebih dari sepertiga studio di Multiplex menyimpan paling sedikit satu film yang oleh penonton dinilai istimewa, dan mencarinya adalah alasan yang baik untuk membuka pintu demi pintu.
Pemeran yang berpindah studio
Sutradara tinggal di satu studio, tetapi pemeran bebas berpindah. Reza Rahadian adalah contoh terbaik di lorong Indonesia: ia bermain dalam delapan film di empat studio. Empat filmnya ada di studio Hanung Bramantyo, yaitu dua film Perahu Kertas, Rudy Habibie, dan Kartini. Dua ada di studio Upi, yaitu My Stupid Boss dan Sri Asih. Satu ada di studio Ody C. Harahap, Kapan Kawin?, dan satu lagi di studio Ernest Prakasa.
Mengikuti seorang pemeran melintasi studio adalah cara lain menikmati Multiplex. Anda melihat bagaimana aktor yang sama tampil sebagai Habibie muda yang serius di tangan Hanung, lalu sebagai bos yang menjengkelkan di tangan Upi. Perbedaan itu memperlihatkan seberapa besar pengaruh sutradara terhadap permainan seorang aktor.
Di lorong dunia, hal serupa terjadi. Pemeran utama Forrest Gump dan Cast Away di studio tamu juga muncul di The Terminal di studio Spielberg dan mengisi suara dalam dua film Toy Story di studio Lasseter. Ketik nama pemeran di kotak pencarian untuk menelusuri jejak semacam itu.
Sutradara dan genre
Sebagian sutradara setia pada satu genre, dan studionya terasa seragam. Timo Tjahjanto adalah contoh paling jelas: empat film, empat film aksi. Guntur Soeharjanto: enam film, enam drama. George Lucas: empat film, empat petualangan angkasa. John Lasseter: empat film, empat animasi.
Sutradara lain berpindah-pindah, dan studionya penuh kejutan. Upi membuat drama geng, komedi kantor, dan film pahlawan super. Jon Favreau membuat komedi Natal, film pahlawan berbaju besi, film masak-memasak, dan dua film hewan. Fajar Nugros berbelok dari komedi romantis ke film tegang. Angga Dwimas Sasongko berpindah dari kedai kopi ke ledakan bom.
Di tingkat lorong, perbedaannya tajam. Di lorong Indonesia, drama memimpin dengan 45 film, disusul komedi dengan 20. Di lorong dunia, petualangan memimpin dengan 35 film. Sutradara Indonesia di sini kebanyakan pencerita kehidupan sehari-hari, sedangkan sutradara dunia yang terpilih kebanyakan pembangun dunia rekaan. Pembahasannya ada di Sutradara dan genre.
Waralaba dan sutradaranya
Multiplex memperlihatkan dua cara mengurus sebuah waralaba. Cara pertama: satu sutradara dari awal sampai akhir. Peter Jackson memimpin keenam film Middle-earth. George Lucas memimpin empat Star Wars di sini. Gore Verbinski memimpin tiga film bajak laut pertama. Fajar Bustomi memimpin keempat film Dilan. Hasilnya adalah rupa dan rasa yang ajek.
Cara kedua: tongkat estafet. Harry Potter adalah contohnya. Chris Columbus membuka dengan dua film yang cerah dan ramah anak, lalu David Yates menutup dengan empat film yang muram. Penonton yang membuka studio tamu lalu studio 16 dapat merasakan sendiri bagaimana pergantian sutradara mengubah warna sebuah cerita.
Di lorong Indonesia, Angga Dwimas Sasongko memimpin tiga film dari dunia Filosofi Kopi, Anggy Umbara memimpin tiga film Comic 8 dan dua film Warkop DKI Reborn, Raditya Dika memimpin dua film Single, Ernest Prakasa dua film Cek Toko Sebelah, dan Riri Riza dua film Petualangan Sherina yang terpisah dua puluh tiga tahun. Pembahasannya ada di Waralaba dan sutradara.
Sutradara yang juga bermain
Dua studio di lorong Indonesia dihuni sutradara yang sering muncul di depan kamera dalam filmnya sendiri. Ernest Prakasa dan Raditya Dika sama-sama berangkat dari dunia lawak tunggal dan tulisan jenaka, lalu menulis, menyutradarai, dan membintangi film mereka. Dua belas film dari dua studio itu memiliki rata-rata rating di atas 7,1.
Keuntungan cara kerja itu terasa di layar: leluconnya pas di mulut pemainnya, sebab pemainnya sendiri yang menulis. Di lorong dunia, Jon Favreau melakukan hal serupa di Chef, tempat ia memerankan juru masaknya, dan ia juga tampil sebagai sopir setia dalam dua film Iron Man.
Penonton yang menyukai komedi dengan suara pribadi yang kuat sebaiknya membuka studio 6 dan studio 8 berturut-turut. Kiat lengkapnya ada di Sutradara komika.
Maraton satu studio
Susunan Multiplex memudahkan satu kegiatan yang disukai banyak penonton: maraton karya satu sutradara. Baris studio di beranda dibuka dengan karya paling awal, dan tahun rilis tertulis di tiap film, sehingga Anda mudah menyusun urutan tonton dari film pertama sampai terbaru.
Maraton tersingkat adalah studio John Lasseter: empat film, 396 menit, selesai dalam satu hari libur bersama anak. Studio Monty Tiwa, dengan lima film berdurasi rata-rata 99 menit, juga ringan. Studio Yandy Laurens, empat film sepanjang delapan jam, adalah maraton dengan mutu paling tinggi.
Maraton terberat adalah studio Peter Jackson dengan lebih dari tujuh belas jam, disusul studio Hanung Bramantyo: tiga belas film, lebih dari dua puluh tujuh jam, cocok untuk dicicil selama sebulan. Kiat menyusun jadwalnya ada di Maraton satu studio.
Durasi tiap studio
Lama duduk di tiap studio sangat berbeda. Studio Peter Jackson memiliki rata-rata 172 menit per film, terpanjang di Multiplex. Studio tamu dan studio Gore Verbinski sama-sama rata-rata 142 menit, dan studio David Yates 139 menit. Di lorong Indonesia, studio Timo Tjahjanto memimpin dengan 131 menit, disusul studio Hanung Bramantyo dengan 126 menit.
Studio tersingkat adalah studio John Lasseter dan studio Monty Tiwa, sama-sama rata-rata 99 menit, lalu studio Fajar Nugros dengan 100 menit. Komedi dan animasi cenderung ringkas, sedangkan petualangan dan epos sejarah memerlukan waktu.
Di tingkat lorong, film sutradara dunia rata-rata 131 menit dan film sutradara Indonesia 114 menit. Selisih tujuh belas menit itu masuk akal: lorong dunia penuh waralaba petualangan, sedangkan lorong Indonesia penuh drama dan komedi yang padat.
Animasi di Multiplex
Lima belas film di Multiplex adalah animasi, semuanya di lorong dunia. Studio John Lasseter menyumbang empat, studio Brad Bird tiga, dan studio tamu empat: tiga karya Pete Docter dan The Polar Express karya Robert Zemeckis. Empat sisanya tersebar: The Lion King di studio Jon Favreau, Corpse Bride di studio Tim Burton, Rango di studio Gore Verbinski, dan film burung hantu di studio Zack Snyder.
Menarik bahwa empat sutradara terakhir itu lebih dikenal lewat film berpemeran manusia. Animasi bagi mereka adalah selingan, dan selingan itu sering menjadi karya yang paling disayang: Corpse Bride dan film burung hantu masing-masing memiliki rating tertinggi di studionya.
Sutradara dan zamannya
Film di Multiplex terbentang dari 1977 sampai 2026, dan tiap studio menempati potongan waktu yang berbeda. Steven Spielberg memiliki rentang terpanjang, tiga puluh empat tahun antara film pertama dan terakhirnya di sini. George Lucas menyusul dengan dua puluh delapan tahun, dari Star Wars pertama sampai episode ketiga.
Di lorong Indonesia, Riri Riza memiliki rentang terpanjang, dua puluh tiga tahun, disusul Hanung Bramantyo dengan dua puluh satu tahun dan Upi dengan enam belas tahun. Seluruh lorong Indonesia dimulai pada tahun 2000 dengan Petualangan Sherina, tahun yang sering disebut sebagai awal kebangkitan film nasional.
Beberapa studio justru sangat padat. Enam film Raditya Dika lahir dalam enam tahun, dan empat film Yandy Laurens juga dalam enam tahun. Fajar Bustomi merilis tiga film Dilan dalam tiga tahun berturut-turut. Kepadatan semacam itu biasanya menandai seorang sutradara yang sedang berada di puncak permintaan.
Menonton satu studio dari film pertama ke film terakhir memperlihatkan pertumbuhan. Bandingkan Catatan Akhir Sekolah dengan Bumi Manusia, atau Elf dengan The Lion King, dan Anda melihat bagaimana kepercayaan diri, anggaran, dan ambisi seorang sutradara membesar dari tahun ke tahun.
Mengenali tangan seorang sutradara
Apa yang sebenarnya dikerjakan sutradara? Ia memilih pemain dan mengarahkan permainannya. Ia menentukan di mana kamera berdiri dan kapan sebuah adegan dipotong. Ia memutuskan musik, warna, dan irama. Karena semua keputusan itu lahir dari satu kepala, film-film seorang sutradara berbagi ciri yang bisa dikenali, seperti tulisan tangan.
Di Multiplex ciri itu mudah dilatih. Tonton dua film dari studio Tim Burton, dan Anda akan mengenali rumah miring, wajah pucat, dan tokoh penyendiri yang baik hati. Tonton dua film dari studio Ernest Prakasa, dan Anda akan mengenali meja makan keluarga tempat lelucon dan pertengkaran bergantian. Tonton dua film dari studio Timo Tjahjanto, dan Anda akan mengenali lorong sempit tempat perkelahian pecah.
Sesudah beberapa studio, Anda akan mulai menebak sutradara sebuah film dari lima menit pertamanya. Itu kesenangan tersendiri, dan sekaligus cara terbaik memilih tontonan: bila tulisan tangannya cocok dengan selera Anda, film berikutnya hampir pasti cocok juga.
Studio mana untuk malam ini
Pilih pintu menurut suasana hati. Ingin tertawa bersama keluarga? Studio Ernest Prakasa, Raditya Dika, dan Anggy Umbara di lorong Indonesia, atau studio Shawn Levy di lorong dunia. Ingin menangis haru? Studio Yandy Laurens dan studio Hirokazu Kore-eda.
Ingin petualangan besar? Studio Peter Jackson, George Lucas, dan Steven Spielberg menyediakan dunia yang luas. Ingin laga yang menegangkan? Studio Timo Tjahjanto untuk penonton dewasa, dan studio Zack Snyder untuk penggemar pahlawan super.
Menonton bersama anak kecil? Studio John Lasseter dan Brad Bird penuh animasi, dan tiga film Pete Docter menunggu di studio tamu. Ingin mengenal sejarah Indonesia? Studio Hanung Bramantyo menyediakan Soekarno, Kartini, Habibie muda, dan Sultan Agung dalam satu ruangan.
Pencarian di Multiplex
Kotak pencarian Multiplex menerima judul, nama sutradara, nama pemeran, dan tahun. Mengetik nama sutradara adalah cara tercepat: ketik "Riri Riza" dan kedelapan filmnya muncul. Ketik "Spielberg" dan sembilan filmnya berbaris. Nama pemeran juga berguna: ketik "Reza Rahadian" dan Anda melihat ia bermain untuk beberapa sutradara berbeda.
Judul asli dan judul bahasa Inggris sama-sama dikenali, dan kata tambahan seperti nonton atau subtitle Indonesia di sekitar judul diabaikan. Nama sutradara tertulis di tiap poster hasil pencarian. Kiat lengkapnya ada di Pencarian.
Halaman A–Z menjajarkan 168 judul menurut abjad, dan halaman Semua film menurut kepopuleran.
Isi halaman film
Halaman film di Multiplex memuat poster, judul, tahun, durasi, rating, dan genre, lalu sinopsis berbahasa Indonesia yang ringkas dan aman dari bocoran. Di bawahnya tertulis sutradara, pemeran utama, negara asal, dan bahasa asli.
Studio film itu tertulis sebagai tautan, sehingga dari halaman Laskar Pelangi satu ketukan membawa Anda ke seluruh studio Riri Riza. Deretan Film serupa di bagian bawah menampilkan film lain dari studio yang sama.
Tombol Tonton sekarang bekerja bersama pilihan negara. Sesudah negara dipilih, tombol itu membuka JustWatch pada judul yang sama dan memperlihatkan layanan resmi yang menayangkannya. Multiplex adalah panduan untuk memilih, dan penayangan dilakukan oleh layanan resmi tersebut.
Bahasa dan subtitle
Multiplex memuat 89 film Indonesia, 75 film berbahasa Inggris, tiga film berbahasa Jepang, dan satu film berbahasa Korea. Semua film memiliki sinopsis berbahasa Indonesia. Film Indonesia tampil dengan judul aslinya.
Ketersediaan teks terjemahan ditentukan oleh layanan resmi yang menayangkan tiap film. Sesudah menekan Tonton sekarang, periksalah pilihan bahasa di halaman layanan itu. Keterangannya ada di Bahasa dan subtitle.
Daftar Saya: jadwal tayang pribadi
Tombol Daftar Saya di halaman film menyimpan judul itu ke daftar pribadi. Di Multiplex daftar ini bekerja seperti jadwal tayang milik Anda sendiri: pilih satu studio, simpan semua filmnya, lalu tonton berurutan. Atau simpan satu film dari tiap studio, dua puluh tujuh film dari tiga puluh dua sutradara.
Daftar itu tersimpan di peramban perangkat Anda, bebas dari akun dan kata sandi. Ponsel dan laptop menyimpan daftarnya masing-masing. Tekan tombol yang sama sekali lagi untuk mengeluarkan film. Catat judul penting sebelum membersihkan data peramban. Keterangannya ada di Panduan Daftar Saya.
Multiplex di ponsel
Di layar ponsel, papan studio tersusun dua kotak per baris, dan nama sutradara tetap terbaca utuh. Baris poster digeser ke samping dengan jari. Menu dan kotak pencarian dibuka lewat tombol di sudut atas.
Halaman Multiplex terang dan ringan, dan poster dimuat saat mendekati layar supaya kuota terpakai hemat. Lewat menu peramban, pilihan Tambahkan ke layar utama menaruh Multiplex di samping aplikasi lain. Kiat lain ada di Multiplex di ponsel.
Langkah pertama
Untuk kunjungan pertama, pikirkan satu film yang Anda sukai, lalu cari namanya. Halaman film itu menunjukkan studionya, dan di studio itu menunggu film lain dari tangan yang sama. Itulah cara tercepat menemukan tontonan berikutnya.
Bila Anda datang dengan kepala kosong, mulailah dari papan. Pilih nama yang paling Anda kenal di lorong Indonesia dan satu nama di lorong dunia. Tonton film pertama di tiap baris, yaitu karya paling awal sang sutradara, lalu film terbarunya di studio lengkap. Jarak di antara keduanya adalah cerita tersendiri.
Sesudah itu, bukalah satu pintu yang namanya asing. Banyak penonton film laga yang iseng membuka studio Kore-eda dan keluar dengan mata basah, dan banyak penonton drama yang mencoba studio Timo Tjahjanto dan keluar dengan jantung berdebar. Halaman Tentang menjelaskan sumber data Multiplex. Selamat memilih pintu, dan selamat menonton.
Ada satu permainan yang enak dicoba bersama teman. Buka halaman Semua film, tunjuk satu poster, dan tebak sutradaranya sebelum membaca keterangannya. Penggemar Dilan biasanya langsung benar, tetapi banyak yang terkejut mengetahui bahwa sutradara Elf juga membuat Iron Man, atau bahwa sutradara Petualangan Sherina juga membuat Gie. Makin sering bermain, makin cepat Anda mengenali tangan di balik sebuah film, dan makin mudah Anda memilih tontonan dari nama di poster saja.
Tentang nama sutradara di situs ini
Nama sutradara di Multiplex dipakai sebagai keterangan tentang siapa yang membuat tiap film. Multiplex adalah panduan mandiri yang berdiri sendiri di luar para sutradara yang disebut, dan uraian tentang gaya mereka di halaman ini adalah pendapat redaksi sebagai penonton.
Daftar film tiap sutradara di sini adalah pilihan, dan karya mereka di luar Multiplex jauh lebih banyak. Bila sebuah studio membuat Anda penasaran, anggaplah itu undangan untuk mencari film mereka yang lain di layanan resmi kesayangan Anda.
Pertanyaan
Apa itu Multiplex?
Multiplex adalah panduan film berbahasa Indonesia yang menata 168 film menurut sutradaranya, dalam dua puluh tujuh studio.
Bagaimana studio sebuah film ditentukan?
Film berdiri di studio sutradara yang namanya tercatat pertama di kolom sutradara TMDB.
Studio mana yang paling besar?
Studio 1, dengan tiga belas film Hanung Bramantyo. Di lorong dunia, studio Steven Spielberg memimpin dengan sembilan film.
Studio mana yang ratingnya paling tinggi?
Studio Yandy Laurens, dengan rata-rata 8,18 dari empat film. Peter Jackson menyusul dengan 7,95.
Film apa yang ratingnya paling tinggi?
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film karya Yandy Laurens, dengan rating 8,8.
Apa itu studio tamu?
Studio 27, tempat enam sutradara masing-masing membawa tiga film: Christopher Nolan, James Cameron, Robert Zemeckis, Pete Docter, Sam Raimi, dan Chris Columbus.
Berapa sutradara Indonesia di Multiplex?
Empat belas sutradara dengan 89 film, dari Hanung Bramantyo sampai Yandy Laurens.
Bagaimana cara menonton film pilihan saya?
Buka halaman film, pilih negara Anda, lalu tekan Tonton sekarang. JustWatch memperlihatkan layanan resmi yang menayangkan judul itu.
Apakah Daftar Saya memerlukan akun?
Daftar Saya bekerja bebas dari akun. Simpanan Anda tinggal di peramban perangkat yang Anda pakai.
Studio mana yang cocok untuk anak?
Studio John Lasseter dan Brad Bird dengan animasi Pixar, serta studio Shawn Levy dengan trilogi museumnya.
★ 6,2
★ 5,4
★ 5,3
★ 6,9
★ 6,4
★ 6,9
★ 6,8
★ 7,3
★ 6,1
★ 6,9
★ 7,0
★ 6,6
★ 7,7
★ 7,8
★ 7,1
★ 7,5
★ 7,8
★ 7,2
★ 7,2
★ 7,9
★ 8,0
★ 7,6
★ 7,1
★ 6,2
★ 6,8
★ 6,7
★ 6,0
★ 6,1